Total Tayangan Laman

Senin, 25 Januari 2010

“SPIRITUAL POWER : MENGENAL ALLAH”

OLEH BOY HADI KURNIAWAN
Sebagai hamba Allah kita dituntut untuk dapat mengenal Allah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan keyakinan kita bahwa kita ini adalah makhluk yang diciptakan dan akan kembali kepada Allah. Pengenalan kepada Allah juga akan memudahkan kita mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan keridhaan-Nya. Jika kita sudah dekat kepada Allah, maka Allah akan selalu menjaga kita dari segala ancaman yang datang dari dalam maupun luar diri kita. Allah akan menjadi penolong dan tiada penolong yang sebaik Allah, sehingga Allah selalu akan menunjuki kita kejalan yang lurus, bukan jalan orang-orang yang sesat dan dimurkai-Nya.
Permasalahan yang terjadi sekarang adalah, banyak diantara manusia yang mengingkari eksistensi Allah dan Teori Penciptaan Alam semesta. Masalah yang ada sekarang seperti korupsi dan kerusakan moral lainnya menunjukkan bahwa manusia tidak begitu yakin akan keberadaan Allah. Buktinya mereka masih mau melakukan kemaksiatan. Padahal kalau mereka yakin akan eksistensi Allah tentu mereka akan takut berbuat kejahatan karena Allah selalu mengawasi, melihat dan membalas perbuatan mereka diakhirat kelak. Oleh karena itu kita perlu membuktikan kepada diri kita sendiri dan kepada siapa saja tentang eksistensi Allah secara ilmiah untuk membantah bahwa alam semesta ini terjadi secara kebetulan yang sering didengung-dengungkan oleh kaum yang berpegang pada filsafat materialisme.
Untuk dapat mengenal Allah maka kita mesti mengetahui cara-caranya. Cara mengenal Allah tidak bisa menggunakan indra, karena indra kita bersifat fana sedangkan Allah bersifat abadi. Artinya indra kita tidak akan sanggup berhadapan langsung dengan ke-Maha Agungan dan Kesucian Allah sedangkan kita adalah makhluk yang tidak suci dan sering berbuat dosa, kecuali jika memang Allah mengizinkan-Nya. Namun sampai saat ini tidak seorang manusia-pun didunia ini yang pernah dan bisa melihat Allah walau dia seorang Rasul dan Nabi sekalipun.

Dengan ini juga memberi pelajaran bagi kita bahwa keimanan kepada Allah mestilah keimanan yang terbebas dari materi. Ia adalah keimanan kepada yang ghaib. Kemampuannya beriman kepada yang ghaib dan tidak terlihat menunjukkan tingginya kualitas keimanan tersebut. Karena kalau kita “beriman” kepada materi yang terlihat, “itu wajar” karena dia terlihat. Namun jika kitia mampu beriman kepada sesuatu yang tidak terlihat dan benar-benar meyakini dengan sepenuh hati itu adalah sesuatu yang luar biasa. Namun sayangnya tidak banyak diantara kita yang mau memikirkan itu.
Untuk itu kita harus menggunakan cara yang benar untuk mengenal Allah, yaitu melalui ayat-ayat Allah yang terdiri atas dua, yaitu ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Pertama dengan ayat-ayat qauliyah. Ayat-ayat qauliyah berarti “Kalam Allah yang disampaikan-Nya langsung kepada Rasulullah saw melalui perantaraan malaikat Jibril as. Kalam itu terkumpul menjadi satu membentuk kitab yang maha agung yaitu Al Qur’anul Karim. Kitab ini betul-betul mencerminkan keagungan dan kebesaran pencipta-Nya. Tidak satupun kitab karangan manusia didunia ini yang mampu menandingi keindahan sastra, struktur bahasa, pilihan kata, kedalaman makna, kebenaran isinya dan semuanya.
Tidak satupun manusia yang bisa membuatnya, walaupun satu ayat. Meski berkumpul semua jin dan manusia bersekutu untuk membuat satu ayat yang bisa menandingi ayat-ayat Al-qur’an juga tidak akan sanggup. Buktinya sampai sekarang keaslian Al Qur’an dari dulu sampai sekarang tetap terjaga. Ini memberikan sebuah petunjuk pertama bagi kita untuk mengenal Allah. Yang kedua yaitu dari isi alqur’an juga memberikan petunjuk bagi kita untuk mengenal Allah. Didalam alqur’an dijelaskan sifat-sifat Allah yang terangkum didalam Asma’ul Husna atau nama-nama Allah Yang Maha Agung. Dari nama dan sifat ini kita akan bisa mengenal Allah secara lebih dekat lagi.
Menurut M. Quraish Shihab didalam buku “membumikan Al qur’an” kita bisa membuktikan dari keseimbangan-keseimbangan yang terdapat didalam al qur’an antara lain Pertama, Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Contohnya: kata Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali. Kata Al-naf’ (manfaat) dan al-madharah (mudharat), masing-masing sebanyak 50 kali. Kemudian kata Al-har (panas) dan al-bard (dingin) masing-masing 4 kali.
Kedua, Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya. Kata Al-harts dan al-zira’ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali. Kata Al-‘aql dan al-nur (akal dan cahaya) masing-masing 49 kali. Kata Al Qur’an, al-wahyu dan al islam, masing-masing 70 kali
Ketiga, Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya. Kata Al-infaq (infak) dan al-ridha ( kerelaan ), masing-masing 73 kali. Kata Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/pembakaran) masing-masing 156 kali.
Keempat, Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya. Kata Al-maw’izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25 kali. Kata Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan)
Kelima, Keseimbangan-keseimbangan khusus. Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Kata bulan (syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. Bukti, selanjutnya, Al Qur’an menjelaskan bahwa langit ada tujuh, yang diulangi sebanyak 7 kali pula, yakni dalam ayat-ayat; albaqarah 29, Al Isra’ 44, Al mukminun 86, fushshilat 12, Al-thalaq 12. Al-Mulk 3 dan Nuh 15.
Kemudian yang kedua adalah dengan ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat kauniyah yaitu yang terdapat diseluruh jagat raya ini. Dengan merenungi dan memikirkan kejadian alam ini dan segala isinya kita akan melihat keteraturan, keseimbangan, keindahan. Sekarang kita mesti bertanya, bagaimana mungkin itu terjadi dengan sendirinya atau terjadi secara kebetulan. Dengan ini tertolaklah teori materialisme-atheisme yang menyatakan bahwa alam ini terjadi secara kebetulan. Bagaimana mungkin “kebetulan” dapat menimbulkan keteraturan, kelengkapan alam raya yang luar biasa ini.
Diri kita juga merupakan ayat-ayat kauniyah. Artinya kita juga bisa mengenal Allah dari mengenal dirin sendiri. Pada diri kita akan melihat sebuah sistem yang lengkap. Organ-organ tubuh saling bekerjasama satu sama lain, sehingga karena itulah kita mampu bertahan hidup. Namun yang perlu jadi catatan bagi kita adalah: bahwa dalam tubuh kita sendiri terdapat organ, jaringan dan sistem yang tidak bisa kita kontrol. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Jantung bergerak dengan sendirinya, otak dan sistem syaraf bekerja dengan sendirinya, bahkan boleh dikatakan semua organ vital dalam tubuh kita -yang jika itu tidak ada kita akan mati- berada diluar kendali kita.
Bagaimana jika kemampuan pengontrolan dan kerja organ-organ vital tersebut seperti jantung, lambung, paru-paru, ginjal dll diberikan kepada kita. Barangkali tidak butuh waktu 1 menit, kit akan lupa bernafas, akan lupa mencerna makanan diusus dsbnya. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa memang ada yang mengaturnya, yaitu Allah swt. Dan tidak mungkin pula organ itu sendiri yang mengatur dirinya, karena dia tidak memiliki kehendak dan akal yang menjadi syarat mutlak bagai sesuatu yang disebut “Pengatur”. Hal ini menunjukkan kelemahan kita terhadap diri sendiri dan terhadap nasib dan masa depan kita. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk sombong dan tidak menyakini keberadaan Allah swt.
Didalam bukunya yang berjudul “Allah Jala Jaluhu” Sai’d Hawwa menjelaskan fenomena-fenomena yang mengarahkan kita untuk mengenal Allah dari tanda-tanda kekuasaan-Nya antara lain :
Pertama, Fenomena terjadinya alam. Dari hukum-hukum perpindahan panas dan energi kita bisa mengambil kesimpulan bahwa suatu saat panas benda-benda dibumi ini akan sama. Sehingga tidak terjadi lagi perpindahan panas(energi). Akibatnya tidak ada lagi kehidupan. Ini sebagai bukti bagi adanya Hari kiamat yang dijanjikan Allah. Kemudian yang selanjutnya, bahwa seluruh benda-benda dialam ini terdiri dari atom-atom yang sama, bahkan unsur-unsur yang sama, gerakan-gerakan yang sama (melingkar). Artinya dia diciptakan tidak secara kebetulan tapi oleh Tuhan yang Sama dan Esa.
Kedua, Fenomena kehendak. Keberadaan alam ini, menunjukkan bahwa dia diciptakan dengan kehendak atau dengan sengaja bukan secara kebetulan karena : “Jika alam ini termasuk ‘hal;-hal yang mungkin’, maka setiap yang mungkin’ mungkin ada, tetapi mungkin juga tidak ada; mungkin ada yang menyandang sifat tertentu, akan tetqpi mungkin pula menyandang sejumlah sifat lain yang tak terhingga; mungkin ada pada zaman tertentu, akan tetapi juga mungkin berada pada waktu-waktu yang lain.”. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa semua alam ini teratur, serba lengkap, bahkan sistem alam ini sempurna, dan tidak mungkin pencipta alam ini adalah “kebetulan” atau “sesuatu yang mungkin”. Contohnya dalam satu unsur protein jumlah atom mencapai (40000). Tidak mungkin jumlah sebesar itu yang membentuk satu unsur protein terjadi secara kebetulan.
Ketiga, Fenomena Kehidupan. Dari fenomena kehidupan ini kita bisa melihat dan memahami keberadaan Allah sebagai Pencipta Kehidupan. Kita bisa melihat dari 2 aspek Pertama, Pertumbuhan dan bervariasinya kehidupan. Pertumbuhan kehidupan menunjukkan bahwa kita tidak mampu menciptakan kehidupan. Seperti yang pernah dicoba oleh Alexander Oparin selama 20 tahun membuat kehidupan dari interaksi kimiawi seperti yang diprediksikannya, dan ternyata gagal total. Bervariasinya kehidupan makhluk hidup dimuka bumi ini membuktikan akan keberadaan Allah. Setiap makhluk hidup memiliki ciri khas tersendiri yang memperlihatkan hal-hal yang luar biasa. Kita bisa belajar dari seekor amoeba yang melakukan segala aktivitas kehidupan hanya dalam satu sel tubuh.. Kedua, Moral dan akhlak. Dari potensi kebaikan dan keburukan yang kita miliki menunjukkan sesuatu yang unik dan luar biasa. Potensi kebaikan seperti akal, kemampuan berbicara, perasaan, kehendak dsbnya. Potensi keburukan seperti sifat-sifat jelek; rasa marah, benci dll. Keduanya ada dalam diri kita, tetapi kita memiliki kebebasan untuk memilih antara dua hal yang bertentangan. Dari moral dan akhlak ini menunjukkan bahwa kita memang diciptakan oleh Allah.
Keempat, Fenomena Pengabulan Do’a. Pengabulan do’a dan keinginan kita menunjukkan bahwa ada yang mendengar dan mengabulkannya. Disaat kita berharap dan membutuhkan pertolongan lalu kita memohon kepada Allah. Tiba-tiba saja itu dikabulkan. Itu sering terjadi dan dialami langsung oleh sebagian besar kita.
Kelima, Fenomena Hidayah. Hidayah (petunjuk) Allah diberikan-Nya pada seluruh makhluk-Nya. Berikut kita lihat bukti Hidayah Allah tsb : Pertama, Ular air dari seluruh dunia yang bertelur dan berenang ke Pulau Bermuda, setelah bertelur dia mati namun anaknya mampu kembali ketempat asalnya tanpa tersesat. Kedua Induk ayam yang membalik-balikan telurnya untuk menetaskan, tanpa pernah diajari induknya. Ternyata bertujuan untuk meratakan makanan keseluruh tubuh telur. Ketiga,Gerak spermatozoid, yang masuk ketubuh wanita melalui lorong yang panjang sampai bertemu dengan sel telur. Tidak satu kekuatanpun yang mampu mengarahkannya, namun ia bisa melakukannya sendiri. Dan banyak lagi contoh yang lain yang sangat luar biasa.
Keenam, Fenomena Kreasi. Kalau kita menganalisa maka kita akan menjumpai bahwa keindahan dan kreasi selalu berdampingan pada setiap hal yang ada didunia ini. Awan, pelangi, langit nan biru, bintang gemintang yang bertaburan, konstelasi gerak dan arsitekturalnya. Semua itu merupakan kreasi yang agung dari Kreator yang Maha Besar. Dari semua makhluk dimuka bumi terselip keindahan. Pada sapi ada keindahan, pada kucing ada keindahan. Harmoni yang terlihat pada setiap makhluk, keharmonisan antara sesama anggota tubuh, keharmonisan warna dengan anggota-anggota tubuh, semua itu menunjukkan adanya Sang Kreator
Ketujuh, Fenomena Hikmah. Menurut para ahli, hikmah berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya. Semua yang ada pada realitas alam ini betul-betul tertata dalam hikmah. Setiap kenyataan yang ada mempunyai hikmah dibaliknya, walaupun realitas itu seolah-olah tidak bermanfaat bagi manusia. Contohnya : Kalau saja tidak ada kematian, maka lalat yang ada dunia ini selama 5 tahun akan melapisi bumi dengan ketinggian cm. Kemudian kalau saja tidak ada bakteri, dan pengurai lainnya maka semua kotoran dibumi ini akan, memenuhi dunia. Dan juga bisa kita lihat dalam sifat-sifat baik dan buruk manusia, terdapat hikmah. Adanya rasa takut membuat manusia menjadi hati-hati. Adanya rasa sakit membuat manusia menjadi berwaspada terhadap kesehatannya. Sifat hasud memang jelek namun, benarkah menciptakan naluri bersaing pada manusia itu jelek? Bakat bersaing yang ada pada diri manusia merupakan faktor terbesar yang menyebabkan perkembangan peradaban manusia,
Kedelapan, Fenomena Inayah (Perhatian Allah). Kenikmatan dan perhatian yang diberikan oleh Allah kepada manusia seharusnya menyadarkan manusia akan kekuasaan Allah. Kenikmatan yang terjadi secara sempurna dimuka bumi ini tidak mungkin secara kebetulan, tetapi merupakan ciptaan Allah
Kesembilan, Fenomena Kesatuan. Dalam segenap aspek kehidupan yang diciptakan Allah, menunjukkan adanya kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lainnnya. Interaksi respirasi antara manusia, dan tumbuhan, dimana manusia membutuhkan O2 dan tumbuhan membutuhkan Co2 yang dikeluarakan manusia sehingga tercipta kesatuan. Dari tubuh manusia dan organ-organnya terdapat satu kesatuan yang saling melengkapi. Artinya ini menunjukkan bahwa Sang Maha Pencipta juga Satu.
Setelah kita mengetahui fenomena-fenomena diatas yang menunjukkan keberadaan Allah swt maka selanjutnya kita mesti mengetahui apa pengertian dan konsekuensi dari seseorang yang ber-Ilah kepada Allah swt. Apa yang menjadi makna dari Illah menurut bahasa arab itu adalah sbb :
Pertama, Sakana Ilayhi (merasa tenang pada-Nya). Apabila kita ber-Ilah (Ber-Tuhan) kepada sesuatu maka kita harus merasakan ketenangan pada-Nya. Ketika mengingat-Nya menumbuhkan ketentraman dan kedamaian dihati kita. Kedua. Istijarabihi (melindungkan diri pada-Nya) ( 72 :6).Melindungkan diri berarti kita menjadikan Allah sebagai tempat kita mengadu, tempat kita memohon dan tempat kita menyerahkan jiwa-raga kita. Artinya ketika kita ber-Ilah kepada Allah maka hanya kepada Allah kita berlindung dari segala kejahatan hawa nafsu yang tak terkendali dan kejahatan syetan yang terkutuk. Ketiga. Selalu rindu pada-Nya ( 7 : 138).Seseorang yang ber-Ilah kepada Allah, mestilah memiliki kerinduan yang dalam untuk bertemu dan berjumpa dengan Allah. Apakah itu melalui shalat, berzikir kepada-Nya serta dengan menjadikan seluruh aspek kehidupannya untuk beribadah kepada Allah. Orang yang rindu kepada Allah berarti ia merupakan orang menjadikan hidupnya untuk Allah semata. Keempat, Mencintai-Nya (2 : 165. Sesungguhnya orang-orang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah. Mencintai Allah berarti menjadikan Allah sebagai pusat pertautan hati. Kecintaan kepada Allah menjadikannya selalu ingat akan Allah dan mau berkorban untuk mencapai keridhaan Allah swt.
Dengan penjelasan ini semoga dapat memperbaharui dan merekonstruksi keimanan kita kepada Allah. Sekaligus menjawab keraguan dari kaum materialis yang tidak mengakui eksistensi Allah sebagai Sang Pencipta. Penejelasan lain yang secara ilmiah dan sangat bagus untuk memberikan bukti-bukti tentang “Teori Penciptaan Alam Semesta” dapat kita temui dalam buku-buku Harun Yahya seorang ilmuwan Turki yang sangat populer saaat ini. Dari keyakinan yang berlandaskan pengetahuan ini akan keberadaan Allah swt maka kita berharap, kita dapat menjadi muslim yang istiqamah secara intelektual, spiritual dan perbuatan. Jika kita, ummat islam sudah istiqamah dalam keimanan maka kita tidak ragu lagi untuk berbuat amar ma’ruf dan nahi munkar. Jika ummat islam sudah memiliki kesadaran ini insya Allah berbagai permasalahan bangsa dapat diatasi. Terutama masalah dekadensi moralitas yang semakin hari semakin kronis. Insya Allah. Wallahu Alam Bishshawab.

Tidak ada komentar:

CONSISTENT TO SUCCESS

CONSISTENT TO SUCCESS