Total Tayangan Laman

Senin, 25 Januari 2010

MENGALAHKAN PENGHALANG KESUKSESAN

Oleh : Boy Hadi Kurniawan
Perjuangan untuk meraih kesuksesan pastilah menghadapi tantangan dan halangan. Tantangan itu terdiri dari 2 hal. Pertama, tantangan atau penghalang yang muncul dari diri sendiri. Kedua, tantangan atau penghalang dari luar diri. Manakah yang lebih berbahaya? Tantangan yang lebih berbahaya adalah yang datang dari diri kita sendiri. Tantangan atau penghalang yang muncul dari diri sendiri adalah penghalang yang tidak kelihatan, akan tetapi dia menjadi musuh dalam selimut, yang secara diam-diam dan perlahan bisa menghancurkan diri kita. Dia adalah karakter, sifat maupun perilaku kita yang menghalangi kita untuk meraih sukses. Terkait dengan cara kita berpikir, bertindak dan merasakan. Jika cara berpikir kita salah maka cara bertindak juga akan salah sehingga hasilnya juga akan salah.
Keberhasilan dan kegagalan kita memang ditentukan oleh karakter dan sifat kita. Dalam sebuah penelitian dikatakan 80 % orang dipecat dan kehilangan pekerjaannya bukan karena tidak memiliki pengetahuan dan skill, akan tetapi karena memiliki karakter, prilaku dan sifat yang jelek. Prilaku adalah penampakan luar dari kepribadian seseorang. Prilaku muncul dari karakter dan sifat yang ada pada bagian internal dari kepribadian manusia.

Apa saja karakter dan sifat yang dapat mengantarkan kita pada kegagalan dan terhambat menuju kesuksesan ? Untuk apa kita mengetahuinya? Jawabannya, supaya jika ada diantara diri kita yang memilikinya, maka kita bisa menghilangkannya dari dalam diri kita. Jika tidak maka kita tidak akan terhambat, terlambat bahkan tidak akan bisa meraih kesuksesan dan cita-cita kita. Penghambat itu antara lain terdiri dari : Pertama yaitu Kesalahan berpikir antara lain ;
1. Pikiran negative. Pikiran negative adalah pikiran yang melihat, memaknai dan menilai hal-hal negative dari suatu peristiwa atau kejadian dalam hidup kita. Orang yang suka berpikir negative adalah orang yang suka melihat masalah dari pada jalan keluar. Pikiran negative juga pikiran yang memandang diri dari sudut kelemahan dan kegagalan yagn membuahkan ketidak percayaan pada diri sendiri. Dalam bertindak orang yang berpikir negative, berpikir dan merasa gagal duluan dibanding kegagalan yang sebenarnya. Kata-kata yang diucapkan oleh orang yang berpikir negative adalah tidak mungkin, tidak bisa, tidak mampu, dan mustahil. Ketika mengalami kegagalan mereka langsung melihat hal-hal negative dari dirinya yang menyebabkannya gagal, kemudian berasumsi bahwa kalau dia melakukan ini, maka dia akan gagal lagi. Akibatnya orang yang berpikir negative mudah putus, mudah menyerah, berhenti di tengah jalan ketika dia menemui kesulitan dan rintangan. Maka kalau kita berpikiran negative, mustahil kesuksesan akan dapat kita raih, karena kita sendiri tidak yakin dan merasa tidak mampu untuk meraih kesuksesan. Bagaimana mungkin orang yang berpikir negative akan berhasil karena tindakannnya juga menjadi negative akibat pikirannya itu.
2. Pikiran kotor dan maksiat. Pikiran kotor dan maksiat adalah pikiran yang mengarah kepada yang jelek, niat tidak baik dan cendrung porno. Orang yang berpikir maksiat adalah orang memikirkan untuk berbuat kecurangan, menipu, ataupun membayangkan hal-hal yang porno. Orang yang berpikir kotor ini adalah orang yang pikiran sehatnya dikendalikan oleh hawa nafsunya. Akibat berpikir maksiat atau kotor ini orang akan memiliki keinginan untuk melaksakan apa yang dipikirkannya itu. Ketika keinginan itu semakin kuat dan menemui kesempatannya, maka akan melahirkan tindakan-tindakan jahat dan maksiat. Seperti ada orang yang tega melakukan pemerkosaan, pencurian, korupsi, penipuan dan kejahatan lainnya. Orang yang berpikir maksiat ini menggunakan kecerdasan dan kecerdikannya untuk melakukan maksiat dan tindakan kejahatan. Akibatnya kalau dia melakukan tindakan tersebut, akan menganiaya dan menzalimi orang lain, Sehingga dia mendapatkan hukuman dan balasan atas perbuatannya baik berupa hukuman dari Negara, hukuman dari masyarakat dan hukuman dari Tuhan, berupa kesulitan hidup, kegelisahan hati dan di akhirat yang pasti akan mendapatkan nerakanya kalau dia tidak memperbaiki dirinya (taubat).
3. Pikiran lambat dan malas berpikir. Pikiran lambat dan malas berpikir adalah pikiran yang tidak mau berpikir, tidak mau belajar dan tidak mau mengasah potensi otaknya. Sehingga potensi otaknya akan terbuang sia-sia akibat ketidak mauannya menggali pikirannya dan ketidakmauannya untuk belajar. Maka kesuksesan pun akan jauh dari orang yang malas berpikir ini. Pepatah mengatakan “pikir itu pelita hati”. Sebelum bertindak maka pikirkan dulu keuntungan dan kerugiannya. Orang yang malas berpikir, cendrung bertindak tanpa berpikir. Mereka suka tergesa-gesa dalam bertindak, ceroboh dan gegabah. Akibatnya banyak kegagalan yang akan didapatkannya.
4. Pikiran status quo. Pikiran status quo yaitu pikiran yang tidak mau melakukan perubahan. Pikiran yang alergi terhadap sesuatu yang baru yang mungkin belum terbukti bagi dia manfaatnya, sehingga dia selalu meragukan ide dan gagasan baru yang datang. Orang yang berpikir status quo ini, adalah orang tertutup terhadap ide baru, tertutup dari masukan orang lain. Padahal pikiran itu seperti parasut, yang akan berfungsi kalau terbuka (open minded). Terbuka dalam menerima informasi baru yang belum diketahui sebelumnya, terbuka dalam menerima masukan atapun kritikan dari orang lain, yang menyebabkan kita bisa melakukan perubahan terhadap kekuarangan atau kegagalan kita selama ini. Namun orang yang berpikir status quo, cendrung percaya pada hal-hal yang sudah dilakukan sebelumnya, dan tidak mau merubah idea atau tindakannya. Padahal kalau kita lihat keberhasilan orang jepang menjadi raksasa ekonomi dunia, dan produsen dari banyak kendaraan serta alat-alat eleketronik adalah kemauannya untuk menerima gagasan baru dan mau melakukan perubahan dan perbaikan terhadap tindakan sebelumnya hatta tindakan yang lama itu sudah baik, maka dibuat menjadi lebih baik lagi. Prinsip perbaikan tiada hendi itu mereka namakan kaizen. Sebaliknya jika kita tidak mau berubah dan tetap mempertahankan pikiran status quo ini, bisa dipastikan kita akan terhambat untuk menuju kesuksesan.
5. Pikiran tidak sadar. Pikiran tidak sadar adalah pikiran yang tidak mengetahui tentang potensi dirinya, tidak mengetahui apa tujuan hidupnya, untuk apa dia hidup dan apa yang harus dilakukan selama hidup. Orang yang memiliki pikiran tidak sadar ini, tidak punya tujuan, kebingungan, tidak efektif dan efisien dalam bertindak, tidak tahu apa yang harus dia lakukan selama hidup ini karena tidak memiliki perencanaan dalam hidupnya. Dia tidak sadar akan makna dan hakikat hidup ini, tidak sadar bahwa kehidupan ini sangat singkat sehingga harus diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Sebagaimana kata pepatah ‘ hidup hanya sekali hiduplah yang berarti’. Akibatnya ketika pikiran tidak sadar ini kita miliki, kita akan terombang-ambing dalam hidup, tersesat tanpa tahu kemana arah yang kita tuju, sehingga kita tidak akan bisa meraih kesuksesan.
Kedua, Sikap negative yaitu :
1. Putus asa dan mudah menyerah. Sikap putus asa dan mudah menyerah ini adalah penghambat utama menuju kesuksesan. Jika kita putus asa dan mudah menyerah dalam menggapai impian dan cita-cita, maka impian itu tidak akan bisa terwujud. Ada kisah tentang tambang emas terpendam disebuah tempat yang belum diketahui orang. Seorang penggali tambang mengetahui berita tersebut, kemudian mulai menggali didaerah tersebut. Berhari-hari dia menggali, namun emas yang dicari tak kunjung didapatkan. Tapi dia yakin bahwa dia tidak boleh menyerah, nalurinya mengatakan emas itu ada disana. Kemudian dia terus menggali dan menggali, bahkan sudah bukan hitungan hari lagi dia menggali, tapi hitungan bulan. Semua perbekalan yang dimilikinya sudah habis. Uangnya sudah banyak terkuras. Namun emas itu tidak kunjung juga ditemukan. Sampailah dia pada puncak kesabaran dan keteguhannya, lalu dia memutuskan bahwa memang emas itu tidak ada disini. Itu hanya cerita burung saja. Kemudian diambilnya peralatan penggali, dia bawa dengan peralatan itu ke tukang loak, dikota terdekat dari lokasi dia menggali tersebut. Tukang loak itu bertanya untuk apa alat itu baginya. Dia menjelaskan bahwa dia mendapatkan informasi adanya tambang emas, tapi sudah berbulan-bulan dia menggali, tambang emas itu tidak ditemukan. Tukang loak itu bertanya lagi, memangnya dimana bapak menggali? Katanya. Tanpa ragu dia menunjukkan lokasi tempat penggaliannya itu kepada tukang loak, karena dia yakin tidak akan ditemukan emas disana. Setelah orang itu pergi, tukang loak itu menjadi penasaran untuk melihat lokasi tambang emas tersebut. Akhirnya dia membawa peralatan yang dibawa orang tadi menuju kelokasi tambang. Sesampai disana dia meneruskan bekas galian orang tadi. Baru sekitar sejengkal dia menggali, dia menemukan suatu benda yang keras, berwarna kekuningan bercampur dengan lumpur, batu dan pasir. Kemudian diambilnya benda tersebut, dibersihkan dengan air, dan diamatinya. Matanya seketika berbinar. Wow, ini emas. Luar biasa!. Kemudian dia meneruskan penggalian, ternyata dia menemukan banyak sekali emas disana. Dapat dipastikab betapa gembiranya tukang loak tersebut, dan segera dia menjadi kaya mendadak. Akhirnya penemuan tambang emas besar, tersebut menggemparkan seantero daerah itu. Sampailah ke telinga penggali tambang tadi. Seakan tak percaya dia datang ke tempat tukang loak tadi. Ternyata rumah dan toko tukang loak tersebut sudah berubah menjadi seperti istana yang megah. Termenunglah dia dalam penyesalannya. Ternyata dia hanya berjarak 1 jengkal saja dari keberhasilannya. Tapi dia berhenti dan menyerah, itulah yang menyebabkan dia gagal. Setelah dia berjanji, apapun usaha yang dilakukannya dia tidak akan pernah menyerah. Akhirnya si penambang tadi juga meraih kesuksesan dalam hidupnya dan menjadi seorang yang kaya didaerah tersebut, setelah mengambil pelajaran dari pengalaman hidupnya tadi, yaitu jangan pernah menyerah, karena mungkin saja keberhasilan anda tinggal 1 jengkal lagi.
2. Malas. Bisa kita pastikan malas pangkal bodoh dan miskin, rajin pangkal pintar dan kaya. Itulah kata pepatah yang sudah sejak kecil kita mendengarnya. Tapi kadang pepatah itu hanya kita dengarkan, jarang kita renungkan, dan waktu kita kecil kita memang kurang merasakan apa manfaat dan dampak dari pepatah tadi. Tapi setelah dewasa, mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri dan keluarga, barulah kita merasakan bahwa memang kemalasan akan membuahkan kegagalan pada kita. Seperti kisah si Kabayan dari daerah Sunda, yang terkenal sebagai icon atau tokoh pemalas, yang kerjanya hanya berkhayal, bermimpi tapi malas bekerja, lebih suka tidur-tiduran, santai dan akhirnya memang nasib si kabayan ini tidak berubah. Dia hanya menjadi duri dalam daging bagi mertuanya, ibunya Nyi Iteung. Saya pernah menonton sebuah film lucu. Dalam film itu diceritakan akan ada hari peringatan kemerdekaan Negara tersebut. Maka dibuatlah acaranya semeriah mungkin, karena upacara itu akan dipimpin langsung oleh Presiden Negara tersebut. Salah satu atraksi yang dibuat adalah membuat wajah Presiden dengan kayu-kayu persegi empat seperti puzzle, yang dipegang oleh beberapa orang, sehingga kalau dilihat dari atas podium tempat presiden dan tamu-tamu kehormatan berdiri, maka wajah presiden yang sedang tersenyum yang memperlihatkan dua gigi depannya yang putih dan masih utuh. Namun ternyata, ada seorang anggota pasukan itu yang pemalas, gendut dan lalai. Dalam latihan dia memang sudah sering kena marah sama pelatihnya. Bahkan sore itu dalam gladi resik kembali dia kena marah karena kelambanan dan kelalaiannya. Setelah selesai latihan, dia pulang kerumahnya. Besok pagi jam 7 upacara dan atraksi membuat wajah presiden sudah dimulai. Dia kemudian tertidur, dan karena memang pemalas dia sering bangun kesiangan. Ketika dia terbangun hari sudah menunjukan pukul tujuh lewat. Atraksi dan upacara sudah dimulai. Presiden melambaikan tangannya kepada ribuan warga dan tamu undangan dari atas podium. Dia tersenyum dan tertawa melihat meriahnya pawai. Tibalah saatnya atraksi membuat wajah presiden. Namun apa yang terjadi. Ternyata wajah presiden itu kehilangan salah satu giginya, yang dibawa oleh si gendut pemalas yang bangun kesiangan tadi. Wajah presiden yang mulanya tertawa dan tersenyum lebar itu, tiba-tiba berubah menjadi merah karena malunya. Pada atraksi itu terlihat wajah presiden yang sudah bergigi ompong satu dibagian depan. Berikutnya dapat kita pastikan betapa marahnya presiden karena insiden yang memalukan ini. Akibat kemalasan dan kelalaian sei gendut tadi. Akhirnya si gendut itu dipenjara, termasuk seluruh tim atraksi wajah tadi. Tapi si gendut mendapatkan hukuman yang lebih berat. Inilah akibat kemalasan.
3. Lalai dan ceroboh. Banyaknya terjadi musibah berupa kecelakaan adalah akibat kelalaian dan ketidak hati-hatian manusia. Dapat kita pastikan orang yang lalai dan suka berbuat ceroboh sering menemui kegagalan dalam hidupnya. Saya punya seorang teman yang saya kasihan dan iba kepadanya karena rumah kontrakannya terbakar, sehingga ludeslah semua yang dimilikinya termasuk ijazah, yang tinggal hanya baju dibadan saja. Hamper saja 2 orang anaknya yang masih kecil dan istrinya yang sedang tertidur lelap menjadi korban karena itu. Sementara waktu itu dia sedang ada keperluan keluar umah. Semua itu terjadi karena kelalaian sang istri yang meletakan lilin ketika lampu mati diatas lemari kayu tanpa alas piring sama sekali. Sehingga ketika lilin itu sudah habis maka dia membakar lemari kayu itu dan api merembes kemudian membakar rumah itu. Inilah akibat kelalaian, yang kadang sangat mahal harga yang mesti kita bayar. Ada juga kisah nyata dan menyedihkan lainnya tentang seorang teman saya yang mesti kehilangan anak laki-lakinya yang baru berumur 1 tahun dan sudah pandai merangkak dan sedang belajar berjalan. Suatu ketika karena lengah, sianak tadi memegang kabel listrik yang diletakan begitu saja di atas di lantai. Akibatnya anak itu tersetrum listrik dan langsung meninggal saat itu juga. Dapat dibayangkan betapa sedih dan lukanya hati orang tua mereka. Sekali lagi ini terjadi akibat kekurang hati-hatian, kurang pertimbangan dan kelalaian kita untuk mengantisipasi akibat dari yang kita lakukan.
4. Sombong dan tidak mau belajar. Kesombongan menyebabkan orang tidak mau menerima pendapat orang lain, tidak mau menerima masukan/kritik dan tidak mau belajar dari pengalaman orang lain. Mereka suka meremehkan orang lain, dan merendahkan orang, karena dia menganggap dirinya lebih hebat dan lebih tahu daripada orang lain. Akibatnya dia sendiri tidak akan berkembang dari segi ilmu dan kepribadian, disebabkan sifat sombongnya itu yang membuatnya menjadi close minded (pikiran tertutup).
5. Tidak mau bertindak. Salah satu penyebab kegagalan dalam bekerja dan menggapai cita-cita adalah tidak adanya tindakan nyata untuk mewujudkannya. Orang yang gagal adalah orang yang memiliki keinginan, ide dan rencana, tapi hanya sekedar keinginan tanpa realisasi, hanya sekedar ide tanpa aplikasi dan hanya sekedar rencana yang menjadi “macan kertas” . Tidak ada ide yang bagus sebelum ide itu diterapkan. Kita tidak akan tahu idea tau rencana kita berhasil atau tidak kelau tidak pernah kita laksanakan. Oleh karena itu kalau kita ingin berhasil, maka laksanakan ide tersebut. Jika kita ingin gagal jangan pernah lakukan ide tersebut.
6. Tidak jujur. Orang yang gagal salah satunya disebabkan ketidak jujuran. Kejujuran adalah kunci dari integirtas kepribadian dan kepercayaan orang lain terhadap kita. Ketika seseorang sudah berlaku tidak jujur maka dia sebenarnya sedang menipu dirinya sendiri. Banyak terjadi kerugia, kebangkrutan dan kehancuran suatu bisnis, suatu Negara ataupun suatu karir karena ketidakjujuran ini. Orang yang tidak jujur adalah orang yang lemah, karena dia tidak percaya cara-cara yang baik sebenarnya bisa mengantarkan dia menuju kesuksesan. Ketidakjujuran akan mengakibatkan lunturnya kepercayaan orang lain kepada kita, karena tidak ada seorangpun didunia ini yang ingin ditipu. Termasuk orang yang tidak jujur juga tidak ingin ditipu atau dibohongi oleh orang lain. Salah satu kepribadian pemimpin yang diinginkan oleh orang lain adalah pemimpin yang jujur. Walaupun dia hebat, tapi tidak jujur maka pemimpin itu akan dibenci oleh orang yang dipimpinnya. Oleh karena itu bersikaplah jujur, dan jauhkan diri kita dari manipulasi dan kebohongan jika ingin sukses. Banyak orang yang sudah berada di puncak karirnya, namun karena tidak jujur, akhirnya reputasi dan karir yang selama ini dibangunnya hancur. Kebohongan tidak akan bisa ditutupi karena cepat atau lambat orang akan tahu. Sperti kata pepatah “ bau bangkai itu tidak akan bisa disembunyikan”. Kebohongan ibarat bangkai yang kita simpan, yang lama kelamaan, seperti apapun disembunyikan bau bangkai itu akhirnya akan tercium juga. Oleh sebab itu, jika kita ingin sukses, janganlah sukses dengan modal ketidak jujuran, karena sukses seperti itu bersifat semu.
7. Tergesa-gesa. Sikap tergesa-gesa dalam bekerja dan mencapai impian, hanya akan membuahkan hasil yang tidak maksimal, karena ketergesa-gesaan menyebabkan kerja yang kita lakukan tidak sempurna, ada yang terlupa dan rawan kecerobohan. Sikap tergesa-gesa untuk mencapai hasil yang diinginkan juga membuat seseorang tergoda untuk menghalalkan segala cara demi menggapai tujuannya tersebut. Selain itu sikap tergesa-gesa untuk mencapai tujuan akan membuat kita mudah putus asa dan tidak sabar, karena seringkali jalan untuk mencapai tujuan itu perlu proses dan waktu. Kesuksesan besar yang ingin kita raih, adalah akumulasi kerja-kerja kecil yang kita lakukan dari dulu. Kesuksesan itu membutuhkan proses dan memakan waktu serta tenaga. Kesuksesan itu tidak bisa disulap secara instan. Sementara orang yang bersifat tergesa-gesa ingin cepat sampai ditujuan, sementara dia tidak siap melalui proses yang menempa dirinya. Ibarat membuat mutiara, maka kerang perlu dimasukan pasir kedalam cangkangnya, sehingga itu menyakitinya. Namun itu membuat kerang mengeluarkan zat, yang melumuri pasir itu yang akhirnya lama kelamaan mengeras menjadi mutiara. Atau ibarat cangkir yang terbuat dari tanah liat, maka cangkir itu mesti dibakar baru kemudian mengeras dan bisa dipergunakan. Kita juga melihat proses pembuatan batu bata. Maka batu-bata yang sudah dicetak, dibakar dulu berjam-jam barulah kemudian dia akan mengeras dan kokoh. Jika pembakarannya kurang memenuhi standar, maka batu bata itu mudah rapuh. Sedangkan orang yang tergesa-gesa mencapai hasil, mereka cendrung tidak sabaran menjadi hebat, menjadi kuat, tanpa melalui proses yang kadangkala proses itu “sedikit” atau “agak” menyakitkan tapi itulah jalannya.
Ketiga, Emosi negative. Penyebab kegagalan berikutnya, bersumber dari ketidak mampuan mengelola emosi. Emosi bisa menjadi kekuatan untuk meraih kesuksesan, tapi sebaliknya emosi juga bisa menjadi batu sandungan besar untuk meraihnya. Diantara emosi, yang disebut emosi negative yang dapat mengahalangi kita menuju sukses adalah sebagai berikut :
1. Marah. Setiap manusia memiliki rasa marah. Namun jika marah itu terus dilakukan, maka hal itu akan memberikan dampak negative terhadap diri kita. Kelihatannya ketika kita tersinggung atau disakiti orang lain, kemudian kita membalasnya dengan marah, seakan kita telah melepaskan energy negative yang kita miliki dalam diri. Namun, dampak dari kemarahan kita itu, bisa saja menyulut kemarahan orang lain, yang akhirnya akan menambah pula derajat kemarahan kita. Berdasarkan tinjauan kesehatan, kemarahan itu dapat menguras energy manusia, sekaligus menjadi pemicu penyakit-penyakit berbahaya seperti darah tinggi, stroke dan jantung. Karena ketika kita marah, aliran darah menjadi tidak stabil, jantung berdetak dengan lebih cepat, nafas tidak teratur, dan jika ini sering dilakukan akan dapat merusak fungsi-fungsi organ seperti jantung dan pembuluh darah yang menjadi menyempit karenanya. Secara social, orang yang gampang marah, tidak disukai oleh orang lain, Hubungannya dengan orang lain mudah dirusak oleh kemarahan tersebut. Orang tua yang pemarah, dapat melukai perasaan anaknya, sehingga kepribadian anak menjadi labil. Makanya jangan heran jika kemudian anak jadi suka melawan pada orang tua, karena ketika orang tua marah jiwa anak menjadi tertekan. Jiwa manusia itu ibarat per, yang jika ditekan dia akan mencari bentuk kesetimbangannya, sehingga berefek melawan tekanan tersebut. Dalam agama, Rasulullah juga melarang marah, bahkan beliau mengatakan Jika Engkau ingin masuk surga, maka jangan marah, jangan marah, jangan marah. Beliau mengulanginya sampai 3 kali yang menunjukkan sifat tidak melampiaskan kemarahan itu sangat baik. Ternyata memang secara social, spiritual dan personal menahan diri dari kemarahan itu sangat besar manfaatnya. Sementara melampiaskan kemarahan itu justru mendatangkan dampak negative, menghalangi kita meraih kesuksesan. Banyak orang yang akhirnya hidup dan masa depannya hancur karena melampiaskan dan membiarkan nasu kemarahan membakar dirinya. Sehingga ada yang menjadi pembunuh, penyiksa, dan berlaku keji kepada orang lain bahkan keluarganya sendiri. Oleh karena itu jangan marah, jangan marah, kalau ingin sukses dunia dan akhirat.
2. Sedih. Kesedihan adalah salah satu emosi negative yang dapat menghalangi manusia menuju sukses. Orang yang membiarkan kesedihan melanda dirinya, ibarat membiarkan ulat menggerogoti daun, yang akhirnya daun itu menjadi meranggas. Kesedihan yang dibiarkan berlarut larut akan menghancurkan motivasi dan semangat hidup kita. Sehingga semangat untuk berbuat dan bertindak akan melemah. Kesedihan juga dapat menyebabkan seseorang di landa stress dan depresi berat, yang akhirnya merusak kepribadian dan mengganggu kinerja otak. Bersedih itu wajar, ketika kita gagal, kehilangan orang yang kita kenal atau cintai, namun jangan berlama-lama larut dalam kesedihan. Justru kesedihan dapat menjadi energy jika kita gunakan dengan proporsional. Seperti, jika kita sedih karena gagal dalam suatu kerja yang sudah kita rencanakan, maka kita kita bertekad, supaya tidak sedih dan kecewa lagi maka kita melakukan pekerjaan itu dengan lebih terencana, lebih baik dan lebih gigih lagi.
3. Takut. Rasa takut juga sesuatu yang wajar. Namun jika rasa takut terus menggerogoti hati kita. Maka jiwa kita akan kerdil. Orang yang takut menjadi tidak bernai mengambil resiko. Padahal tidak ada jalan yang kita lalaui tanpa resiko. Semakin tinggi jalan yang ingin kita daki, maka resikonya juga semakin besar. Orang yang penakut menyebabkan dia tidak berani dalam mengambil keputusan, tidak berani memulai, tidak berani bertemu dengan orang lain, sehingga mustahil dia akan berhasil jika seperti itu. Ketakutan juga menyebabkan hati kita juga menjadi gelisah dan cemas. Ketakutan juga melahirkan pribadi yang tidak percaya diri. Walaupun potensinya besar, namun potensi itu akhirnya tidak pernah keluar, karena ketakutannya membuat potensi itu terkubur. Seperti orang yang punya potensi untuk berbicara didepan public (public speaker), tapi karena rasa takutnya yang besar, dia tidak pernah berani mencoba dan melatih dirinya bicara didepan umum sehingga potensi itu terpendam. Atau seperti orang yang punya potensi sebagai seorang penjual (sales) yang hebat. Dia tahu bahwa dia bisa meyakinkan orang. Dia dapat merasakan, apa kata yang bagus untuk dikelaurkan supaya orang percaya padanya. Namun karena takut, nanti ditolak, takut dan malu bertemu dengan orang, akhirnya hal itu tidak dilakukannya. Alhasil dia tidak pernah berhasil karena takut.
4. Iri dan dengki. Emosi negative, karena iri dan dengki pada orang lain ini sangat berbahaya bagi jiwa kita. Orang yang iri dan dengki, hanya dsibukkan mencari kekurangan orang lain, sehingga dia lupa dengan kekurangannya sendiri dan lupa untuk melakukan tindakan-tindakan baik yang seharusnya dapat mengantarkan dia menuju sukses. sifat iri adalah sifat yang tidak senang melihat orang lain senang, sedangkan sifat dengki adalah sifat yang senang melihat orang lain tidak senang. Seorang yang iri dengan pendengki, mengakibatkan orang lain membencinya. Karena dengan sifat irinya tersebut dia akan mudah menjelek-jelekan dan mencari keburukan orang lain. Secara kejiwaan orang yang iri dan dengki ini tidak akan pernah tenang, karena ketika dia melihat orang lain bahagia, dia menjadi menderita. Semakin orang yang diirikannya itu bahagia, maka akan semakin menderitalah dia. Padahal sikap kita adalah ketika orang lain senang maka kita juga senang, dan ketika orang lain susah kita juga susah. Itulah sifat empati, sebagai cirri kecerdasan emosional, yang menyebabkan seseorang mudah diterima dalam pergaulan, disukai dan sukses dalam pekerjaannya. Karena semua pekerjaan dan semua usaha yang kita lakukan membutuhkan kerjasama dan interaksi dengan orang lain. Orang yang hebat dan ahli berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain maka merekalah yang akan sukses. sebaliknya mereka yang gagal dalam berinteraksi dengan orang karena sifat iri dan dengki ini, dipastikan juga gagal dalam lapangan kehidupan.
5. Dendam. Dendam adalah emosi negative yang bercokol dalam diri. Dendam ibarat api membara yang disembunyikan, atau bom waktu yang siap meledak kapan saja jika pemicunya muncul. Orang yang pendendam, selalu terobsesi pada orang yang dia dendami. Sehingga pikiran dan energinya terkurass pada orang itu dan terkuras untuk membalas perilaku orang itu kepadanya. Dendam itu jelas sekali tidak sehat secara kejiwaan, karena membuat jiwa gelisah dan tidak tenang. Orang yang pendendam akan merana sendiri, energinya banyak terkuras untuk mencari cara melampiaskan dendamnya. Dan suatu saat jika dendam itu dilampiaskan, banyak kasus terjadi efeknya sangat dahsyat. Bisa menjadi penipuan, pembunuhan, penjerumusan orang yang didendaminya. Lawan dari sifat dendam ini adalah memaafkan (forgiving). Ketika kita mudah memaafkan orang lain, maka selesailah persoalan emosi negative dalam diri kita. Nabi Muhammad saw pada suatu ketika pernah mengatakan pada shahabatnya, bahwa ada seseorang yang menjadi calon penghuni surga. Rasulullah kemudian menunjukkan orang tersebut pada sahabatnya. Sebagian Sahabat menilai orang itu biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa dalam ibadah dan perilakunya. Ada seorang sahabat Nabi Saw, yang tertarik dan ingin menyelediki orang tersebut lebih lanjut. Sahabat ini menyamar sebagai musafir dan minta pertolongan untuk menginap di rumah orang tersebut. Pada malam harinya sahabat ini terbangun untuk memantau apakah orang ini melakukan shalat malam (tahajud) atau tidak. Ternyata itu tidak dia lakukan. Orang itu hanya bangun menjelang shalat subuh. Pada malam kedua dia pantau lagi, ternyata juga tidak, begitu juga malam ketiga. Dilihat juga dalam keseharian amalan orang itu biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan. Tidak ada kelihatannya sesuatu yang istimewa pada orang itu, yang ingin ditiru oleh sahabat. Akhirnya karena penasaran sahabat ini bertanya pada orang itu. Apa amalan yang dia lakukan sehingga Rasulullah saw mengatakan bahwa orang ini termasuk salah seorang calon penghuni surge. Orang itu mengatakan saya ini biasa-biasa saja, saya juga tidak tahu kalau Rasulullah saw mengatakan seperti itu. Tapi orang itu mengatakan ada satu perbuatan yang selalu saya lakukan setiap malam menjelang tidur, yaitu meminta ampun pada Allah swt atas dosa atau perbuatan yang saya lakukan sehari tadi, kemudian mengampuni dan memaafkan semua kesalahan yang dilakukan orang pada saya katanya, sehingga saya tidur dengan hati yang tenang, dan tidak ada dendam. Sahabat itu kemudian termenung dan berpikir, karena dia akhirnya menemukan jawaban inilah yang menjadi penyebab orang ini masuk surga sebagaimana kata Rasulullah saw. Dari kisah ini dapat kita simpulkan, jika kita menyimpan dendam, maka akan menghambat dan menghalangi diri kita meraih sukses, namun jika kita menjadi orang yang memaafkan ini akan menghantarkan kita meraih kesuksesan.
Keempat, Kebiasaan negative. Kebiasaan adalah hal yang kita lakukan setiap hari. Tapi kadang kita tidak sadari ternyata kebiasaan yang kita lakukan itu menentukan terhadap keberhasilan ataupun kegagalan kita. John C Maxwell mengatakan bahwa nasib kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan setiap hari. Kebiasaan ini akan menjadi karakter yang mendarah daging bagi kita, jika dia menjadi karakter maka nasib kita ditentukan oleh karakter tersebut. Jika pada pokok bahasan lain kita membahas tentang kebiasaan yang harus kita lakukan. Pada bahasan ini kita membahas apa kebiasaan yang seharusnya kita tinggalkan dan tidak kita lakukan. Kebiasaan itu antara lain :
1. Suka menunda. Kebiasaan suka menunda pekerjaan ini sering kita temukan pada orang lain atau bahkan terutama pada diri kita sendiri. Penyakit suka menunda ini menyebabkan pekerjaan-pekerjaan kita menjadi terbengkalai, rencana-rencana, tugas-tugas kita tertunda dan kewajiban-kewajiban yang harus kita lakukan terhambat. Akibatnya keberhasilan kita pun menjadi tertunda. Padahal kalau kita lihat, dunia saat ini tidak hanya membutuhkan kualitas dari suatu produk, tapi juga kecepatan dari produk tersebut untuk dapat dikonsumsi. Kalau dulu ada pepatah mengatakan “biar lambat asal selamat”. Namun sekarang sudah berubah menjadi “ biar cepat asal selamat”. Teknologi membuat pekerjaan menjadi lebih murah, lebih efektif dan efisien. Orang yang suka menunda apa yang seharusnya dia lakukan, makak dapat kita pastikan keberhasilan dan cita-citanya juga akan tertunda. Orang lain sudah sampai sementara dia masih dalam perjalanan, akibat lambat memulai start. Dalam pertandingan lari, start itu sangat menentukan. Terlambat sedikit saja memulai maka kekalahan sudah didepan mata, karena persaingan sangat ketat. Hitungan kemenangan bukan dalam detik lagi, tapi sudah sepersekian detik. Artinya terlambat sedikit saja bisa fatal. Latihan selama sekian bulan dan sekian tahun, bisa buyar, karena kelalaian dan lambat sekian detik saja.
2. Membuang waktu. Orang yang gagal adalah orang yang suka membuang waktu untuk perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat. Padahal waktu adalah harta yang tidak ternilai harganya. Waktu adalah kehidupan, bukan sekedar uang. Setiap kita menghabiskan waktu, sebenarnya kita sedang menghabiskan kehidupan. Membuang waktu sama dengan membuang kehidupan, yang tidak akan bisa diulang lagi walau sedetik saja. Kegagalan kita dalam memanfaatkan momentum dan kesempatan dalam kehidupan, maka sama seperti membuang harta karun yang barusan kita temukan, karena ketidaktahuan kita bahwa itu sebenarnya adalah harta yang tidak ternilai. Setelah kita sadar, biasanya baru kita menyesal. Namun penyesalan kemudian kalau sudah terlambat maka tidak akan ada gunanya. Kebiasaan membuang waktu itu seperti kebiasaan banyak santai atau tidur daripada bekerja, kebiasaan banyak menonton tv daripada membaca atau belajar, kebiasaan berlebihan dalam berbicara namun tidak ada aksi atau tindakan nyata diistilahkan dengan NATO (No Action Talk Only).
3. Tidak disiplin. Kebiasaan tidak disiplin adalah kebiasaan yang menghantarkan pada kegagalan. Orang yang tidak disiplin adalah orang yang tidak komitmen terhadap jadwal dan waktu yang seharusnya dia kerjakan. Salah satu sikap yang harus dimiliki oleh seorang militer adalah sikap disiplin dan ketepatan waktu. Karena tanpa sikap disiplin sangat membahayakan terhadap nasib bahkan nyawa seseorang. Terutama dalam keadaan perang. Jika dalam perang ada seorang prajurit yang tidak disiplin dan terlambat dalam mengerjakan kewajibannya, maka bisa mengakibatkan nyawa dia dan nyawa pasukannya terancam, yang akhirnya berbuah pada kekalahan perang. Agama pun mengajarkan kita untuk berdisiplin dalam melaksanakan ibadah. Dalamm agama islam, 5 kali sehari melakukan shalat dengan waktu yang sudah ditentukan. Terlambat dalam melaksanakannya, maka tetap saja mendapatkan hukuman neraka wail dari Allah swt. Maka shalat yang terbaik itu adalah yang tepat waktu. Itulah yang dinilai oleh Allah. Artinya Allah menyukai orang yang disiplin dibandingkan dengan tidak disiplin. Dalam bekerja jika kita tidak disiplin maka dapat dipastikan pekerjaan kita akan gagal. Seorang pedagang yang seharusnya membuka tokonya jam 7 pagi, namun karena tidak disiplin dia membukan tokonya jam 7.30, padahal pelanggannya sudah menunggu dari jam 7.00. Akibatnya pelanggannya menjadi kecewa, dan membeli ditempat yang lain, sehingga rezki pedagang tersebut menjadi berkurang hari itu. Tidak disiplin juga dapat merusak hubungan dan kepercayaan orang lain pada kita. Misalnya kita berjanji untuk pertemuan bisnis penting jam 8 pagi, tapi karena tidak disiplin kita datang jam 9. Akibatnya mitra bisnis kita kecewa karena lama menunggu, mereka akan menilai bahwa kita menganggap hubungan bisnis ini tidak penting, sehingga akhinrnya mereka mengalihkan kerjsamanya pada yang lain. Jadi kesimpulannya tidak disiplin akan menghantarkan pada kegagalan.
Inilah pemikiran, sikap, emosi dan kebiasaan kita yang menghantarkan kita pada kegagalan. Kalau kita ingin meraih kesuksesan, dan tidak ingin kesuksesan kita terhalangi gara-gara ini, maka tidak ada jalan lain kita harus menghilangkan ini dari diri kita. Untuk menghilangkannya memang tidak mudah, apalagi jika dia sudah menjadi kebiasaan. Namun kesungguhan dan tekad kita untuk berubah menjadi lebih baik, secara bertahap dan perlahan akan membuat kita mampu untuk melakukannya. Kalau kita sadari memelihara hal-hal diatas sangat berbahaya bagi diri kita, maka kita harus bertekad untuk menghilangkannya dari diri kita atau minimal menguranginya secara bertahap. Lalu bagaimana caranya untuk mengatasi penghalang kegagalan ini, jika ada diantaranya pada diri kita. Langkah pertama yaitu mengidentifikasi dan mengakui secara jujur apa saja diantara penyebab itu yang ada pada diri kita. Kedua, kita harus memikirkan apa dampak dan akibatnya jika kita membiarkan diri kita tetap bergelimang dalam perilaku tersebut. Apa efeknya bagi diri kita dan keluarga kita. Sehingga ketika kita menyadari apa efeknya kita berkeinginan untuk menjauhinya. Kita bisa menuliskan daftar akibat atau kerugian dari hal diatas yang kita rasakan atau yang akan kita rasakan jika kita tidak menghilangkannya. Ketiga, kita harus mau menyesali diri kenapa sampai terjerumus pada hal tersebut. Kalau perlu kita menangis dan minta kepada Tuhan agar menghilangkannya dari diri kita. Keempat, kita harus membuat apa manfaat yang akan kita dapatkan jika penyakit-penyakit diatas sudah hilang dari diri kita. Kelima, kita bayangkan dalam pikiran kita (visualisasi) diri kita dengan perilaku yang baru dan kita inginkan, dan bayangkan bahwa diri kita berhasil menghilangkan perilaku tersebut. Bayangkan kita melihat diri kita melakukan perilaku itu dan kita merasa malu melihati diri kita sendiri, lalu bayangkan sebuah tekad yang kuat menghancurkan prilaku tersebut. Dalam ilmu Neuro Linguistik Programming disebut dengan istilah Generator membangkitkan Tabiat yang baru. Kemudian katakan “wuus”, sambil mengibaskan tangan menghapuskan bayangan kita sedang melakukan perbuatan negative tersebut, sambil menutup mata. Keenam, buatlah sebuah janji dan afirmasi pada diri sendiri bahwa kita tidak akan melakukan perbuatan itu lagi. Tuliskan perbuatan, pikiran ataupun kebiasaan negative yang kita miliki dikertas selembar, kemudian tuliskan kata-kata saya berjanji tidak akan malas lagi!!.. saya berjanji tidak akan lalai lagi!!..kemudian lanjutkan janjinya dengan memakai kalimat positif seperti, lawan dari malas adalah rajin. Katakana saya berjanji akan rajin belajar!! Atau rajin bekerja. Saya berjanji akan menjadi orang yang pemberani untuk menjual produk saya pada orang lain. Semakin spesifik janji itu maka akan semakin baik. Lakukan itu secara berulang-ulang, insya Allah secara perlahan dari waktu kewaktu mudah-mudahan kita dapat berubah menjadi lebih baik, dengan menghilangkan hal-hal yang negative dari pikiran, sikap, emosi dan kebiasaan kita. Jika itu sudah kita lakukan, maka kita akan lebih cepat menuju pulau impian kita, karena tidak ada lagi penghalang didepan mata, karena penghalang itu sudah kita singkirkan dari diri kita. Salam sukses buat kita semua..!!

Tidak ada komentar:

CONSISTENT TO SUCCESS

CONSISTENT TO SUCCESS