Total Tayangan Laman

Senin, 25 Januari 2010

“KECERDASAN HATI” UNTUK MERAIH SUKSES SEJATI

Suatu hari Nabi Muhammad saw pernah mengatakan “dalam diri manusia ada segumpal daging, jika daging itu rusak, maka rusaklah manusia itu, jika daging itu baik, maka baiklah manusia itu. Sesungguhnya daging itu adalah hati”.
Hadist ini menjelaskan betapa pentingnya menjaga hati, agar hati itu tidak rusak dan tetap baik sebagaimana fitrahnya. Hati yang dimaksud disini bukanlah hati dalam pengertian fisik, tapi hati dalam pengertian makna. Hati yang dimaksud disini adalah “jiwa” dan “perasaan” manusia.
Hati itu adalah pusat emosional, perasaan dan situasi kejiwaan manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Daniel Goleman dalam bukunya Kecerdasan Emosional. Bahwa kecerdasan yang paling penting dimiliki manusia hari ini, bukan hanya kecerdasan intelektual, tapi kecerdasan yang penting adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional itu pusatnya ada dalam hati manusia. Manusia yang tidak cerdas emosi kata Goleman, adalah manusia yang tidak mampu mengenali emosinya, mudah terperangkap dalam situasi emosional seperti marah, sedih atau takut, manusia yang tidak mampu mengenali perasaan orang lain atau tidak peka, manusia yang tidak mampu mengendalikan emosinya dan mengarahkan emosinya pada yang baik, manusia yang tidak mampu membangun hubungan baik dengan orang lain serta manusia yang tidak mampu berempati dan peduli apalagi membantu orang lain.
Apa hubungannya antara kebaikan dan kesehatan “hati” dan kesuksesan hidup? Jawabannya jika hati manusia sudah rusak, sakit atau bahkan mati, maka manusia itu akan menjadi manusia yang tidak punya perasaan, mau mengorbankan orang lain, sehingga akhirnya manusia seperti ini akan menemui kegagalan dalam hidupnya. Sebagaimana yang kita lihat pada kehidupan nyata, orang-orang yang hatinya rusak akan menjadi penjahat, dan semua penjahat jika tidak melakukan perbaikan, mereka berakhir dipenjara, di rumah sakit atau di kuburan.

Bagaimana yang dimaksud dengan hati yang sudah “rusak” itu. Hati yang sudah rusak adalah hati sudah tidak mampu lagi merasakan perbedaan kebaikan dan keburukan. Ibaratkan jika satu bagian tubuh kita sakit, maka seluruh tubuh juga terasa berat dan menyakitkan. Begitu juga jika jiwa dan hati itu sudah rusak, maka menyebabkan kehidupannya terasa berat dan menyakitkan. Hati yang rusak tidak lagi merasakan ketenangan, kenikmatan, kedamaian dan kebahagiaan. Karena pusat ketenangan, kebahagiaan dan kedamaian itu bukan di fisik kita, tapi ada dalam hati dan jiwa kita. Jadi jika hati dan jiwa itu sakit maka sakitlah juga fisik kita. Namun jika fisik sakit, jiwa belum tentu merasa sakit. Hal ini sesuai dengan penelitian dan kesimpulan dari para dokter ataupun psikolog yang mengatakan bahwa sakit fisik itu tidak hanya disebabkan oleh salah makanan atau salah pola hidup, tapi juga disebabkan oleh perasaan dan jiwa yang gelisah, tidak tenang, cemas, takut dan marah secara berlebihan. Situasi kejiwaan atau situasi hati seperti ini dapat memicu penyakit seperti jantung, stroke, darah tinggi dan penyakit berbahaya lainnya.
Oleh karena itu seorang ulama yang bernama Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, mengatakan ada 3 kategori hati manusia. Pertama, hati yang mati. Hati yang mati yaitu hati atau jiwa sudah mati dan tidak mampu lagi membedakan yang baik dan yang buruk. Orang yang hatinya mati tidak mampu lagi merasakan yang baik itu baik, yang buruk itu adalah keburukan. Sebaliknya mereka justru menganggap keburukan sebagai kebaikan, dan menganggap kebaikan sebagai keburukan. Kita bisa mengistilahkan manusia “tanpa perasaan” atau orang yang tidak punya perasaan. Sehingga mereka tidak mampu merasakan penderitaan orang lain. Tidak mau berempati pada orang lain. Tidak peduli atas penderitaan orang lain. Merasa senang ketika menyakiti orang lain. Merasa bahagia kalau orang lain menderita. Mereka rela mendapatkan kesenangan dengan mengorbankan orang lain. Bahkan ketika mereka melakukan kejahatannya, mereka merasa tidak berdosa, merasa hal itu wajar-wajar saja dan justru merasa senang.
Orang yang hatinya sudah mati inilah mereka yang kemudian menjadi pembunuh, penjahat, pemerkosa, penipu, pencuri, penjarah hak orang lain, koruptor, yang demi menyenangkan diri dan nafsunya mereka mau mengorbankan orang lain. Oramg ini juga yang menjadi pecandu berat narkoba, penjudi yang tidak mau menghentikan kebiasaannya, pelacur yang tidak lagi merasa terpaksa menjual dirinya, sehingga ketika diberikan pekerjaan lainpun dia tetap kembali menjadi pelacur.
Kita mungkin pernah mendengar berita, ketika seorang pembunuh ditangkap dan disidangkan. Ketika dia diinterogasi untuk menceritakan perbuatannya, dia menceritakannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Bahkan ada diantara mereka yang tersenyum-senyum saja, ketika kesalahan, kejahatan dan dosanya diungkapkan di depan umum. Manusia seperti ini, terkadang lebih kejam daripada binatang. Hatinya berubah menjadi bengis. Mereka bahkan rela mengorbankan keluarga dan suadaranya sendiri untuk memenuhi nafsu dan keinginannya. Inilah penyebabnya ada ayah yang menodai anak kandungnya. Ada suami/istri yang tega berselingkuh tanpa rasa bersalah sedikitpun pada istri/suaminya. Ada ayah yang tega “menjual” istri dan “anaknya” demi mendapatkan uang dan kenikmatan semata.
Kita juga pernah mendengar berita seseorang yang dipenjara karena mencuri atau menipu, ketika bebas di kembali melakukannya. Mereka tidak menjadikan hukuman sebagai sarana evaluasi diri akan kesalahannya. Mereka justru tetap merasa benar, dengan berbagai alasan. Seperti kisah Ryan si jagal dari jombang yang membunuh 11 orang. Justru dia merasa ketagihan dalam membunuh, seakan memuaskan hasratnya, merasa senang membuat korbannya menderita. kemudian dengan darah dingin dia menggali lubang dan menguburkan korbannya, sampai jumlahnya 11 orang. Bayangkan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang seperti itu. Apakah dia tidak merasa kasihan? Apa dia tidak ibda melihat korbannya? Apa dia tidak merasa takut melakukan perbuatan itu? Tapi dia sudah dikendalikan oleh nafsu amarahnya sehingga dia melakukan perbuatan itu. Para psikolog juga mengatakab para penjahat kelas kakap yang sering melakukan kejahatan, pembunuh berantai, pencuri dan penipu ulung, mereka adalah orang yang terobsesi untuk terus melakukan perbuatan itu tanpa merasa bersalah, karena mereka sudah mematikan dan membunuh nuraninya sendiri. Mereka disebut “psikopat” dalam istilah psikologi. Namun secara spiritual menurut Religius tadi mereka adalah contoh orang yang hatinya sudah “mati”.
Apa penyebab kematian hati? Hati yang mati disebabkan manusia sudah terbiasa dan merasa nikmat melakukan kejahatan dan dosa. Ketika diawal melakukan perbuatan salah mungkin masih ada perasaan bersalah dihatinya. Ada perasaan tidak tenang dan tidak enak. Namun ketika terbiasa melakukannya, akhirnya dia menjadi terbiasa dan berulang-ulang melakukan perbuatan itu. Sehingga nuraninya menjadi “mati”, tidak lagi melihat keburukan sebagai keburukan, justru sebaliknya. Oleh karena itu jika kita ingin terhindar dari kematian hati, maka kita harus menghindarkan diri dari perbuatan salah, jahat dan dosa. Apa ukurang perbuatan salah tersebut? Tentu saja ukuran pertamanya adalah agama, kemudian nilai-nilai moral dan etika yang berlaku ditengah masyarakat. Hati nurani yang masih bersih juga bisa menjadi ukurannya. Karena hati yang masih baik, pasti akan merasakan baik atau buruknya suatu perbuatan.
Rasulullah saw pernah ditanya oleh sahabatnya “ Ya Rasul, bagaimana cara membedakan antara perbuatan dosa dan kebaikan? Rasulullah menjawab, tanyalah hati nuranimu. Hati nuranimu pasti akan merasa gelisah ketika melakukan perbuatan dosa, dan pasti akan merasakan kebahagiaan ketika melakukan kebaikan. Kemudian beliau melanjutkan bahwa “perbuatan dosa itu adalah engkau ingin menyembunyikan perbuatan itu dari orang lain” atau ingin orang lain tidak mengetahuinya.
Kemudian yang kedua, kata Imam Ibnul Qayyim adalah hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang kadang-kadang cendrung pada kebaikan dan kadang-kadang cendrung pada keburukan. Orang yang hatinya sakit ini masih merasakan penyesalan ketika melakukan perbuatan yang salah. Penyesalan itu bertahan dalam jangka waktu tertentu. Namun suatu ketika, dia tidak lagi mampu mengendalikan hawa naafsunya, sehingga melakukan lagi perbuatan yang sama. Akibatnya jiwanya menjadi gelisah dan tidak tenang. Dia ingin kelauar dari jeratan perbuatan salah yang dia lakukan. Dia menyadari itu. Namun dia tidak memiliki cukup kekuatan, komitmen dan keteguhan prinsip untuk merubah dirinya. Bahkan adakalanya dia menangis dan menyesali diri, disisi lain dengan nikmat dia melakukan kesalahannya. Orang seperti ini akan terhambat meraih kesuksesan. Sebagai contoh dia sadar dalam dirinya adalah penyakit malas. Ketika memperturutkan kemalasan itu, setelah itu dia sadar dan menyesal, sehingga menjadi rajin bekerja atau belajar. Tapi kembali dia pada perbuatannya itu, kemudian sadar lagi. Sehingga, begitu berulang-ulang dia berkutat menyembuhkan diri dari penyakitnya. Akibatnya dia lambat menuju kesuksesan, karena memiliki kepribadian yang lemah dan mudah tergoda dan terjebak pada pola hidup yang sama.
Ketiga, adalah hati yang sehat (Qalbun saliim) atau hati yang tenang (nafsul muthmainnah). Hati yang sehat ini adalah hati yang berada pada rel atau fitrahnya. Dia tidak lagi menyesal, karena melakukan kesalahan. Dia sudah berhasil mengendalikan dan mengontrol dirinya dan keinginannya untuk tidak melakukan kesalahan. Orang yang memiliki hati yang tenang ini, adalah orang yang teguh dalam memegang prinsip, komitmen pada kebenaran yang dia yakini, sehingga dia tidak membiarkan dirinya terjebak oleh nafsu dan keinginan sesaat saja. Dia mampu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, walaupun dia ingin, demi mendapatkan nikmat dan kompensasi lebih besar. Orang seperti inilah yang disebut juga orang cerdas secara emosional. Daniel Goleman mengatakan dalam bukunya, tentang sebuah penelitian yang dilakukan oleh para Psikolog terhadap siswa sekolah taman kanak-kanak di Stanfod Universtiy tahun 1960 an oleh Walter Mischel. Anak-anak yang dijadikan objek penelitian adalah yang berumur 4 tahun. Penelitian terus dilakukan sampai mereka masuk Sekolah Menengah Atas. Kisah ini telah diceritakan juga pada Bab Emotional for Success. Anak-anak itu diberi Kue marshmallow. Mereka boleh memakan saat itu juga. Namun jika mereka bersabar sampai si peneliti kembali, mereka mendapatkan 2 kue tambahan. Ada diantara anak-anak itu yang bersedia menunggu, sebagian lainnya langsung melahap marshamallow itu. Ternyata setelah mereka remaja dan masuk sekolah menengah atas, anak-anak yang mampu menahan dirinya ini dari kenikmatan sesaat untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih, mereka lebih dapat diterima dalam pergaulan, lebih disukai dan lebih popular, jika dibandingkan anak-anak yang tidak mampu menahan diri dari tes marshmallow ini.
Kalau begitu, bagaimana agar dapat memiliki hati yang sehat atau emosi yang cerdas ini? Apa yang harus kita hindarkan agar tidak memiliki hati yang sakit atau mati? Menurut Imam Ibnul Qayyim penyebab kematian dan sakitnya hati ini diantaranya adalah : maksiat atau dosa yang dilakukan terus menerus, kelalaian dan kemalasan dalam berbuat kebaikan dan ibadah, berlebihan dalam mengejar materi dan dunia sehingga menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuannya, kemudian berlebihan dalam menuruti nafsu perut, nafsu berbicara, dan nafsu kemaluan. Jika kita renungkan dan kita kaji, memang betul apa yang disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim. Kalau kita terus menerus melakukan perbuatan salah sebagaimana yang kita bahas diatas, maka kita bisa menganggap perbuatan salah itu baik. Maka untuk mengatasinya, jika kita sadar telah melakukan kesalahan kita harus segera menghentikannya. Kemudian jika kita lalai dan malas dalam berbuat kebaikan dan ibadah, tentu saja kelalaian itu membuat hati kita tidak memiliki tekad yang kuat untuk berbuat kebaikan, belajar ataupun bekerja. Salah satu penyakit dan penghalang terbesar manusia dalam meraih sukses ini adalah kemalasan dan kelalaian. Dan penyebab utama kesuksesan adalah lawan dari kemalasan yaitu rajin bekerja, rajin belajar dan bertindak.
Orang yang berlebihan dalam mengejar materi dan kenikmatan dunia, sehingga menghalalkan segala cara, maka hati mereka akan mati dan sakit. Karena mereka merasakan dan berpikir dengan ketidak jujurannya mereka dapat menikmati harta dan materi tanpa perlu bekerja keras. Akibatnya mereka menjadi kecaduan sehingga terus menerus melakukan perbuatan salah tersebut. Seperti orang yang suka menipu, merasa nikmat dari hasil kerja penipuannya, tanpa perlu berpeluh mereka mendapatkan materi. Atau para pencuri baik yang berdasi atau diistilahkan penjahat kerah putih, ataupun yang tidak berdasi, mereka merasa nikmat dengan hasil curiannya. Akibatnya mereka kecanduan dan terus menerus melakukan perbuatan itu, sampai mereka ketahuan atau tertangkap. Ada yang kemudian menyesal, sadar dan berubah menjadi lebih baik setelah mendapatkan hukuman setimpal. Ada pula yang justru tidak ada perubahan sama sekali. Sekembali dari penjara mereka kembali melakukan perbuatan itu. Inilah orang yang hatinya telah mati tadi.
Begitu juga berlebihan dalam nafsu perut seperti makan dan minum, menyebabkan seseorang kurang sensitive hatinya dalam merasakan penderitaan orang lain yang miskin dan tidak makan misalnya. Sehingga tidak timbul empati dan dorongan hati untuk membantu. Inilah rahasianya kenapa Allah, menyuruh berpuasa, agar dapat mengendalikan nafsu perut sehingga dapat merasakan penderitaan orang yang kelaparan, dengan target dapat menumbuhkan kecerdasan emosi yaitu empati dan kepedulian untuk mau menolong mereka.
Bagaimana dengan memperturutkan nafsu kemaluan (seks) ? Jelas saja ini dapat mematikan hati, karena orang yang memperturutkan nafsu seksual tanpa batasan, maka mereka dapat melakukan perselingkuhan, hubungan diluar nikah yang disebut dengan perzinaan, yang akibatnya mereka bergonta-ganti pasangan, sehingga menyebarlah penyakit menular seksual, aborsi, kerusakan dan pecahnya rumah tangga, perceraian, anak yang terlantar karena tidak diperhatikan orang tua bahkan banyak anak bayi hasil hubungan diluar nikah yang dibuang bahkan dibunuh. Padahal apa dosa mereka?
Maka orang yang sudah terjebak pada nafsu ini, tidak akan bisa meraih sukses hakiki. Apa artinya materi dan harta yang banyak tapi keluarga yang seharusnya menjadi indicator kesuksesan menjadi berantakan. Anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang tidak stabil secara emosi dan spiritual. Banyak kasus ditemukan bahwa mereka-mereka yang menjadi criminal ataupun mengalami “kegilaan” diusia dewasannya adalah mereka yang memiliki masalah emosi di masa kanak-kanaknya akibat keluarga yang pecah dan orangtua yang tidak mendidik dengan benar, sehingga melakukan kekerasan fisik ataupun psikologis terhadap mereka.
Bagaimana cara mengobati dan melakukan terapi terhadap hati agar dapat kembali hidup dan sehat setelah mengalami kesakitan atau kerusakan tadi, bahkan kematian. Jawabannya adalah : pertama, menyesali perbuatannya, berjanji tidak mengulangi dan melakukan perubahan diri menjadi lebih baik atau disebut dengan “Taubat”. Penyesalan terhadap perbuatan salah ini sangat penting, karena penyesalan itu pusatnya dihati. Ketika manusia menyesali perbuatan negative yang dilakukan, maka struktur syaraf kesenangan yang awalnya dirasakan ketika melakukan perbuatan salah akan berganti menjadi ketidak senangan ketika melakukan perbuatan salah. Dalam NLP kita kenal istilah, “merusak pola” untuk merubah cara berpikir dan merasa terhadap perbuatan negative. Caranya kita dapat membayangkan apa saja efek negative yang kita dapatkan jika kita tetap mempertahankan perbuatan negative tersebut yang disebut dengan pendekatan (moving away) dalam NLP dan motivasi.
Kedua, kita mengganti perbuatan-perbuatan buruk itu dengan memperbanyak perbuatan baik. Sebagai ilustrasi kita masukan air bening dan bersih kedalam sebuah gelas. Kemudian ke dalam air itu kita masukan kopi, tinta, atau sirup yang berwarna hitam, sehingga air yang bening tadi berubah warna menjadi hitam atau kotor. Umpamakan hati yang sudah kotor dan rusak itu dengan air yang kotor tadi. Pada awalnya hati itu bersih dan sehat, yang diperlihatkan dengan air yang bersih dan bening tadi. Kemudian kotoran dalam air itu umpama dosa-dosa, kesalahan dan kelalaian yang kita lakukan. Pertanyaanya, bagaimana cara membersihkan kembali air yang sudah kotor tadi, agar kembali bersih dan bening seperti semula. Maka jawabannya adalah dengan memasukan terus menerus air bersih kedalam air yang sudah kotor, sehingga keluarlah air yang kotor tadi secara perlahan lalu digantikan oleh air yang bersih. Cara ini bisa kita umpamaka sebagai cara untuk membersihkan hati yaitu dengan mengganti perbuatan buruk dengan memperbanyak perbuatan baik sampai akhirnya perbuatan buruk itu lenyap dan berganti dengan perbuatan baik.
Apa saja perbuatan baik yang kita lakukan? Misalnya memperbanyak beribadah, memperbanyak membaca kitab suci al qur’an, memperbanyak menuntut ilmu dan belajar, memperbanyak membantu orang lain, memperbanyak silaturahmi atau membangun hubungan kekeluargaan, dan memaafkan kesalahan orang lain. Sehingga ketika hati kita sudah kembali sehat, maka jiwa kita dan pikiran kita akan bersih. Sebagaimana kata Aa Gym dalam Syair Lagu jagalah hati :
Jagalah hati jangan kau kotori. Jagalah hati lentera hidup ini
Jagalah hati jangan kau nodai. Jagalah hati cahaya illahi
Jika hati sudah busuk. Pikiran jahat merasuk
Akhlak kian terpuruk. Jadi Makhluk terkutuk
Tapi jika hati bersih. Pikiranpun jadi jernih
Semangat hidup pun gigih. Prestasi mudah diraih
Inilah sebagian atau penggalan dari Syair jagalah hati karya KH Abdullah Gymnastiar, yang mengungkapkan bagaimana akibat tidak mampu menjaga hati, dan apa manfaatnya ketika kita mampu menjaga hati, yaitu kita dapat meraih prestasi dan kesuksesan hidup dunia akhirat. Kesimpulannya jika kita ingin meraih sukses sejati, yang tidak hanya berupa materi, kuncinya jagalah hati!!

Tidak ada komentar:

CONSISTENT TO SUCCESS

CONSISTENT TO SUCCESS