Total Tayangan Halaman
Senin, 26 Februari 2018
The Power to Success
5 Kekuatan untuk meraih kesuksesan sejati, seimbang dunia akhirat.
Bagaimana membangkitkan 5 hal dalam hidup Anda
1. Kekuatan Pikiran
2. Kekuatan Mental
3. Kekuatan Fisik
4. Kekuatan Emosional
5. Kekuatan Spiritual
Kamis, 13 Februari 2014
9 ETOS KERJA SUKSES
Oleh Boy Hadi Kurniawan
Kita menyadari
bahwa kerja yang dilakukan tanpa etos kerja akan berbuah kegagalan atau hasil
yang tidak sesuai harapan dan tujuan. Oleh karena itu kita harus memiliki 9
etos kerja yang mengantarkan kita menuju kesuksesan dalam pekerjaan kita, yaitu
:
Kerja Ikhlas
Keikhlasan adalah salah
satu kekuatan spiritual yang dimiliki oleh manusia. Keikhlasan akan memberikan
kekuatan dan ketenangan dalam hati dan jiwa manusia. Keikhlasan juga perbuatan
yang membuat amal ibadah kita diterima oleh Allah swt. Sebaliknya perbuatan
yang tidak dilandasi keikhlasan membuat amal, ibadah dan perbuatan kita tidak
ada nilainya disisi Allah swt. Dalam qur’an Allah swt menyuruh kita untuk
memurnikan ketaaan kita hanya kepada Allah swt atau ikhlas dalam beribadah
kepada-Nya. Rasulullah saw juga menyampaikan bahwa “Setiap amal manusia itu
tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan”.
Dari hadist ini kita dapat menyimpulkan bahwa niat itu adalah kekuatan. Niat
adalah harapan yang akan dapat menjadi kenyataan. Ketika kita berniat baik,
maka kebaikanlah yang akan kita dapatkan, sebaliknya jika kita berniat buruk
maka keburukan pula yang akan kita dapatkan. Bahkan dalam Al qur’an dikatakan
Iblis dan Syaithan tidak akan sanggup menjerumuskan dan mempengaruhi manusia
yang mukhlis, yaitu mereka yang beribadah dan beramal dengan keikhlasan dan
mengharap ridha Allah swt.
5 KEKUATAN PEMBANGUN ETOS KERJA SUKSES
Boy
Hadi Kurniawan
Untuk membangun etos kerja sukses tersebut ada 5 kekuatan
yang mesti kita bangkitkan dalam diri kita. 5 kekuatan itulah yang akan
mengantarkan kita untuk meraih sukses sejati dunia dan akhirat. Ketika kita
mampu membangkitkan kekuatan itu maka kita akan menjadi pribadi dahsyat.
Kekuatan itu adalah kekuatan spiritual (spiritual power), kekuatan emosional (emotional
power), kekuatan pemikiran (mind power), kekuatan sikap mental (mental
attitude), dan kekuatan fisik (phisyical power).
Sesungguhnya dalam diri kita terdapat raksasa yang sedang
tidur sebagaimana kata Anthony Robbins dalam bukunya Awaken The Giant Within
yaitu bangunkan raksasa yang ada dalam dirimu. Atau seperti kata Colin Rose
dalam Accelerated Learning “Your Brain Its Just Like a Sleeping Giant” Otak
anda seperti Raksasa tidur. 5 kekuatan ini adalah raksasa yang sedang tidur
dalam diri anda yang jika anda berhasil membangunkannnya maka anda akan sukses.
Berikut penjelasannya :
SPIRITUAL CHARACTER BUILDING
Oleh Boy Hadi Kurniawan
Para ilmuwan dan para ahli hari ini
menyadari bahwa Kecerdasan spiritual sangat menentukan terhadap kesuksesan
seseorang dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat. Mereka meyakini dan
membuktikan bahwa orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan meraih
kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Kenapa?karena kecerdasan spiritual akan
menumbuhkan karakter positif dalam diri mereka. Dimana karakter tersebut
merupakan syarat mutlak untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat.
Dalam diri manusia ada Titik Tuhan
(God Spot), titik Tuhan itu yang menyuarakan suara hati nurani manusia, yang
melandaskannya pada nilai-nilai moral dan kebenaran. Dalam Al Qur’an sebagaimana
diatas, Allah swt mengatakan bahwa Dia telah meniupkan ruh (ciptaan)-Nya kepada
manusia, sehingga dalam diri manusia ada sifat-sifat mulia yang bersumber dari
Tuhan. Itulah fitrah manusia. Sehingga orang yang memiliki kecerdasan spiritual
adalah orang yang jujur, bertanggung jawab, bijaksana, berani, mau menolong
orang tanpa pamrih, dan tidak semata berorientasi pada materi. Orang yang
memiliki kecerdasan spiritual akan menjadi pribadi yang seimbang, tenang,
memberi kedamaian dan terhindar dari stress, depresi dan kehampaan diri, karena
mereka sudah berhasil memaknai kehidupan, dan mereka tahu tujuan hidupnya ,
dari mana dan mau kemana.
HAKIKAT BEKERJA
Oleh
Boy Hadi Kurniawan
1.
Kerja Adalah Ibadah
Kerja adalah
bentuk pengabdian kita kepada Allah swt, karena Allah swt berfirman Tidaklah
Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku QS Adz
zariyat: 56. Sebagai hamba Allah swt kita disuruh beramal, dan mencari rezki
miliki Allah swt dimuka bumi ini. Usaha mencari rezki yang halal dalam memenuhi
kebutuhan diri kita, keluarga, agama dan untuk kebaikan bagi sesame adalah
bentuk ibadah ghairu mahdah yang bisa kita lakukan.
2.
Kerja Adalah Panggilan Jiwa dan Aktualisasi Diri
Kerja adalah
dalam rangka memenuhi panggilan jiwa, suara hati dan bakat terpendam yang ada
dalam diri kita. kita bekerja tidak hanya untuk uang semata, tapi adalah dalam
rangka memenuhi panggilan jiwa dan mengaktualisasikan diri kita. sehingga
potensi dan bakat yang kita miliki dapat keluar. Seseorang yang bekerja dalam
rangka memenuhi panggilan jiwa dan aktualisasi dirinya akan merasakan kepuasan
batin dan kenikmatan dalam bekerja. Bekerja tidak menjadi beban dan tekanan
baginya, tapi menjadi kebutuhan dan pelepasan diri, sehingga dia tidak merasa
bosan, jenuh, mudah letik dan capek ketika bekerja. Contohnya adalah Prof
Nelson Tansu orang Indonesia yang meraih Profesor termuda di AS, memiliki 200
lebih karya yang dimuat di jurnal ilmiah serta memiliki 8 hak paten. Setiap
hari dia bekerja melakukan riset, belajar dan menulis tanpa rasa jenuh dan
bosan, karena bekerja sudah menjadi panggilan jiwanya yang terdalam
Rabu, 24 April 2013
Senin, 25 Januari 2010
SPIRITUAL FOR SUCCESS
Oleh Boy Hadi Kurniawan
Sebagian orang mengatakan tidak kaitan antara spiritual atau keyakinan pada Tuhan menentukan terhadap keberhasilan hidup. Sebagian orang yang berpahaman atheis atau tidak percaya pada Tuhan, yang katanya mereka menggunakan logika, mengatakan bahwa keberhasilan kita semata-mata ditentukan oleh kekuatan akal dan usaha . Mereka tidak percaya pada kekuatan supranatural dan kekuatan ghaib yang tidak bisa dilihat. Ternyata perkembangan ilmu pengetahuan akhirnya membuktikan kebenaran bahwa kecerdasan spiritual atau keyakinan pada Tuhan menentukan terhadap keberhasilan seseorang.
Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan, para ahli melakukan penelitian tentang potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh manusia sebagai bekal menuju kesuksesan, baik dalam belajar, bekerja ataupun berinteraksi dengan sesame manusia. Mereka lalu menyimpulkan bahwa salah satu kekuatan penentunya, mereka sebut dengan kecerdasan intelektual atau Intellectual Quotient (IQ). Penemuan ini dipopulerkan oleh Binet. Dengan IQ ini, manusia digolongkan menjadi beberapa yaitu idiot/keterbelakangan mental, rata-rata, cerdas, sangat cerdas dan jenius.
Namun mereka menemukan dalam lapangan kehidupan ternyata orang-orang yang memiliki IQ sangat cerdas dan jenius, mereka mengalami kegagalan dalam pekerjaan maupun interaksinya dengan orang lain. Bahkan ada yang terlibat dalam kasus-kasus criminal. Sebagaimana kisah seorang mahasiswa yang jenius yang diceritakan dalam buku Emotional Intelligence, selalu mendapatkan nilai A disemua mata pelajaran. Ketika mendapatkan nilai B pada satu mata pelajaran, dia marah pada dosen yang bersangkutan sampai akhirnya dia melakukan percobaan pembunuhan pada dosen tersebut dengan menusuk dosen itu dengan pisau. Untung saja dosennya tersebut tidak menjadi korban karena kekejaman mahasiswa jenius tersebut.
Sebagian orang mengatakan tidak kaitan antara spiritual atau keyakinan pada Tuhan menentukan terhadap keberhasilan hidup. Sebagian orang yang berpahaman atheis atau tidak percaya pada Tuhan, yang katanya mereka menggunakan logika, mengatakan bahwa keberhasilan kita semata-mata ditentukan oleh kekuatan akal dan usaha . Mereka tidak percaya pada kekuatan supranatural dan kekuatan ghaib yang tidak bisa dilihat. Ternyata perkembangan ilmu pengetahuan akhirnya membuktikan kebenaran bahwa kecerdasan spiritual atau keyakinan pada Tuhan menentukan terhadap keberhasilan seseorang.
Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan, para ahli melakukan penelitian tentang potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh manusia sebagai bekal menuju kesuksesan, baik dalam belajar, bekerja ataupun berinteraksi dengan sesame manusia. Mereka lalu menyimpulkan bahwa salah satu kekuatan penentunya, mereka sebut dengan kecerdasan intelektual atau Intellectual Quotient (IQ). Penemuan ini dipopulerkan oleh Binet. Dengan IQ ini, manusia digolongkan menjadi beberapa yaitu idiot/keterbelakangan mental, rata-rata, cerdas, sangat cerdas dan jenius.
Namun mereka menemukan dalam lapangan kehidupan ternyata orang-orang yang memiliki IQ sangat cerdas dan jenius, mereka mengalami kegagalan dalam pekerjaan maupun interaksinya dengan orang lain. Bahkan ada yang terlibat dalam kasus-kasus criminal. Sebagaimana kisah seorang mahasiswa yang jenius yang diceritakan dalam buku Emotional Intelligence, selalu mendapatkan nilai A disemua mata pelajaran. Ketika mendapatkan nilai B pada satu mata pelajaran, dia marah pada dosen yang bersangkutan sampai akhirnya dia melakukan percobaan pembunuhan pada dosen tersebut dengan menusuk dosen itu dengan pisau. Untung saja dosennya tersebut tidak menjadi korban karena kekejaman mahasiswa jenius tersebut.
“SPIRITUAL POWER : MENGENAL ALLAH”
OLEH BOY HADI KURNIAWAN
Sebagai hamba Allah kita dituntut untuk dapat mengenal Allah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan keyakinan kita bahwa kita ini adalah makhluk yang diciptakan dan akan kembali kepada Allah. Pengenalan kepada Allah juga akan memudahkan kita mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan keridhaan-Nya. Jika kita sudah dekat kepada Allah, maka Allah akan selalu menjaga kita dari segala ancaman yang datang dari dalam maupun luar diri kita. Allah akan menjadi penolong dan tiada penolong yang sebaik Allah, sehingga Allah selalu akan menunjuki kita kejalan yang lurus, bukan jalan orang-orang yang sesat dan dimurkai-Nya.
Permasalahan yang terjadi sekarang adalah, banyak diantara manusia yang mengingkari eksistensi Allah dan Teori Penciptaan Alam semesta. Masalah yang ada sekarang seperti korupsi dan kerusakan moral lainnya menunjukkan bahwa manusia tidak begitu yakin akan keberadaan Allah. Buktinya mereka masih mau melakukan kemaksiatan. Padahal kalau mereka yakin akan eksistensi Allah tentu mereka akan takut berbuat kejahatan karena Allah selalu mengawasi, melihat dan membalas perbuatan mereka diakhirat kelak. Oleh karena itu kita perlu membuktikan kepada diri kita sendiri dan kepada siapa saja tentang eksistensi Allah secara ilmiah untuk membantah bahwa alam semesta ini terjadi secara kebetulan yang sering didengung-dengungkan oleh kaum yang berpegang pada filsafat materialisme.
Untuk dapat mengenal Allah maka kita mesti mengetahui cara-caranya. Cara mengenal Allah tidak bisa menggunakan indra, karena indra kita bersifat fana sedangkan Allah bersifat abadi. Artinya indra kita tidak akan sanggup berhadapan langsung dengan ke-Maha Agungan dan Kesucian Allah sedangkan kita adalah makhluk yang tidak suci dan sering berbuat dosa, kecuali jika memang Allah mengizinkan-Nya. Namun sampai saat ini tidak seorang manusia-pun didunia ini yang pernah dan bisa melihat Allah walau dia seorang Rasul dan Nabi sekalipun.
Sebagai hamba Allah kita dituntut untuk dapat mengenal Allah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan keyakinan kita bahwa kita ini adalah makhluk yang diciptakan dan akan kembali kepada Allah. Pengenalan kepada Allah juga akan memudahkan kita mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan keridhaan-Nya. Jika kita sudah dekat kepada Allah, maka Allah akan selalu menjaga kita dari segala ancaman yang datang dari dalam maupun luar diri kita. Allah akan menjadi penolong dan tiada penolong yang sebaik Allah, sehingga Allah selalu akan menunjuki kita kejalan yang lurus, bukan jalan orang-orang yang sesat dan dimurkai-Nya.
Permasalahan yang terjadi sekarang adalah, banyak diantara manusia yang mengingkari eksistensi Allah dan Teori Penciptaan Alam semesta. Masalah yang ada sekarang seperti korupsi dan kerusakan moral lainnya menunjukkan bahwa manusia tidak begitu yakin akan keberadaan Allah. Buktinya mereka masih mau melakukan kemaksiatan. Padahal kalau mereka yakin akan eksistensi Allah tentu mereka akan takut berbuat kejahatan karena Allah selalu mengawasi, melihat dan membalas perbuatan mereka diakhirat kelak. Oleh karena itu kita perlu membuktikan kepada diri kita sendiri dan kepada siapa saja tentang eksistensi Allah secara ilmiah untuk membantah bahwa alam semesta ini terjadi secara kebetulan yang sering didengung-dengungkan oleh kaum yang berpegang pada filsafat materialisme.
Untuk dapat mengenal Allah maka kita mesti mengetahui cara-caranya. Cara mengenal Allah tidak bisa menggunakan indra, karena indra kita bersifat fana sedangkan Allah bersifat abadi. Artinya indra kita tidak akan sanggup berhadapan langsung dengan ke-Maha Agungan dan Kesucian Allah sedangkan kita adalah makhluk yang tidak suci dan sering berbuat dosa, kecuali jika memang Allah mengizinkan-Nya. Namun sampai saat ini tidak seorang manusia-pun didunia ini yang pernah dan bisa melihat Allah walau dia seorang Rasul dan Nabi sekalipun.
” QUANTUM KEBAIKAN “
Oleh : Boy Hadi Kurniawan
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. QS Ath Thalaaq : 7
Ayat Al Qur’an di atas memberikan pelajaran bahwa Allah swt menyuruh kita untuk menafkahkan atau untuk bersedekah disaat kita sedang disempitkan rezkinya atau mengalami kesulitan hidup. Kenapa Allah menyuruh seperti itu? Karena ada sebuah keyakinan spiritual bahwa ketika kita membantu sesame manusia, maka Allah pun akan membantu kita, mengeluarkan kesulitan dan memberikan kelapangan pada kita sesudah mengalami kesempitan.
Apakah ini sebuah kenyataan? Ataukah hanya dogma agama saja yang tidak terbukti? Bagi kita yang yakin dan beriman pastilah kita percaya bahwa janji Allah itu benar. Cuma kita selama ini tidak mengamalkannya sehingga kita tidak merasakan bukti dari janji Allah tersebut.
Nabi Muhammad saw bersabda : Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. HR Muslim. Hadist ini menjelaskan kepada kita bahwa jika menolong sesame manusia maka Allah pun akan menolong kita dari kesulitan dan permasalahan hidup yang kita alami.
Hal ini juga diperkuat oleh Ustad Yusuf Mansur Pimpinan Wisata hati, beliau mengatakan “Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa, dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah dan bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Subahanallah, Inilah fadhilah sedekah bagi pelakunya
Ayat Al Qur’an di atas memberikan pelajaran bahwa Allah swt menyuruh kita untuk menafkahkan atau untuk bersedekah disaat kita sedang disempitkan rezkinya atau mengalami kesulitan hidup. Kenapa Allah menyuruh seperti itu? Karena ada sebuah keyakinan spiritual bahwa ketika kita membantu sesame manusia, maka Allah pun akan membantu kita, mengeluarkan kesulitan dan memberikan kelapangan pada kita sesudah mengalami kesempitan.
Apakah ini sebuah kenyataan? Ataukah hanya dogma agama saja yang tidak terbukti? Bagi kita yang yakin dan beriman pastilah kita percaya bahwa janji Allah itu benar. Cuma kita selama ini tidak mengamalkannya sehingga kita tidak merasakan bukti dari janji Allah tersebut.
Nabi Muhammad saw bersabda : Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. HR Muslim. Hadist ini menjelaskan kepada kita bahwa jika menolong sesame manusia maka Allah pun akan menolong kita dari kesulitan dan permasalahan hidup yang kita alami.
Hal ini juga diperkuat oleh Ustad Yusuf Mansur Pimpinan Wisata hati, beliau mengatakan “Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa, dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah dan bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Subahanallah, Inilah fadhilah sedekah bagi pelakunya
“KECERDASAN HATI” UNTUK MERAIH SUKSES SEJATI
Suatu hari Nabi Muhammad saw pernah mengatakan “dalam diri manusia ada segumpal daging, jika daging itu rusak, maka rusaklah manusia itu, jika daging itu baik, maka baiklah manusia itu. Sesungguhnya daging itu adalah hati”.
Hadist ini menjelaskan betapa pentingnya menjaga hati, agar hati itu tidak rusak dan tetap baik sebagaimana fitrahnya. Hati yang dimaksud disini bukanlah hati dalam pengertian fisik, tapi hati dalam pengertian makna. Hati yang dimaksud disini adalah “jiwa” dan “perasaan” manusia.
Hati itu adalah pusat emosional, perasaan dan situasi kejiwaan manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Daniel Goleman dalam bukunya Kecerdasan Emosional. Bahwa kecerdasan yang paling penting dimiliki manusia hari ini, bukan hanya kecerdasan intelektual, tapi kecerdasan yang penting adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional itu pusatnya ada dalam hati manusia. Manusia yang tidak cerdas emosi kata Goleman, adalah manusia yang tidak mampu mengenali emosinya, mudah terperangkap dalam situasi emosional seperti marah, sedih atau takut, manusia yang tidak mampu mengenali perasaan orang lain atau tidak peka, manusia yang tidak mampu mengendalikan emosinya dan mengarahkan emosinya pada yang baik, manusia yang tidak mampu membangun hubungan baik dengan orang lain serta manusia yang tidak mampu berempati dan peduli apalagi membantu orang lain.
Apa hubungannya antara kebaikan dan kesehatan “hati” dan kesuksesan hidup? Jawabannya jika hati manusia sudah rusak, sakit atau bahkan mati, maka manusia itu akan menjadi manusia yang tidak punya perasaan, mau mengorbankan orang lain, sehingga akhirnya manusia seperti ini akan menemui kegagalan dalam hidupnya. Sebagaimana yang kita lihat pada kehidupan nyata, orang-orang yang hatinya rusak akan menjadi penjahat, dan semua penjahat jika tidak melakukan perbaikan, mereka berakhir dipenjara, di rumah sakit atau di kuburan.
Hadist ini menjelaskan betapa pentingnya menjaga hati, agar hati itu tidak rusak dan tetap baik sebagaimana fitrahnya. Hati yang dimaksud disini bukanlah hati dalam pengertian fisik, tapi hati dalam pengertian makna. Hati yang dimaksud disini adalah “jiwa” dan “perasaan” manusia.
Hati itu adalah pusat emosional, perasaan dan situasi kejiwaan manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Daniel Goleman dalam bukunya Kecerdasan Emosional. Bahwa kecerdasan yang paling penting dimiliki manusia hari ini, bukan hanya kecerdasan intelektual, tapi kecerdasan yang penting adalah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional itu pusatnya ada dalam hati manusia. Manusia yang tidak cerdas emosi kata Goleman, adalah manusia yang tidak mampu mengenali emosinya, mudah terperangkap dalam situasi emosional seperti marah, sedih atau takut, manusia yang tidak mampu mengenali perasaan orang lain atau tidak peka, manusia yang tidak mampu mengendalikan emosinya dan mengarahkan emosinya pada yang baik, manusia yang tidak mampu membangun hubungan baik dengan orang lain serta manusia yang tidak mampu berempati dan peduli apalagi membantu orang lain.
Apa hubungannya antara kebaikan dan kesehatan “hati” dan kesuksesan hidup? Jawabannya jika hati manusia sudah rusak, sakit atau bahkan mati, maka manusia itu akan menjadi manusia yang tidak punya perasaan, mau mengorbankan orang lain, sehingga akhirnya manusia seperti ini akan menemui kegagalan dalam hidupnya. Sebagaimana yang kita lihat pada kehidupan nyata, orang-orang yang hatinya rusak akan menjadi penjahat, dan semua penjahat jika tidak melakukan perbaikan, mereka berakhir dipenjara, di rumah sakit atau di kuburan.
Langganan:
Postingan (Atom)
CONSISTENT TO SUCCESS

